Tolong

Tolong!
Aku baru terbangun dari tidurku
Dari mimpi
Dan aku melihat
Lengan dan jari-jariku
Sudah menjadi besi


Tolong!
Aku baru terbangun dari mimpi
Dari tidurku
Dan segala nadi arteri
Di tanganku
Menjadi selang berminyak
Dan saraf-sarafku menjadi kabel timah


Tolong aku!
Aku baru selesai bermimpi
Akan hidup di atas awan pelangi
Dan akan darah dan peluh dan air mani
Yang semanis madu dan warna-warni
Tapi ketika aku membuka mataku
Untuk menghadapi kenyataan di depanku
Yang kulihat hanyalah abu-abu


Selamatkan aku!
Karena aku tak bisa lagi menoleh kiri-kanan
Dan yang kulihat di depan
Hanyalah Soekarno-Hatta
dan Ngurah Rai
dan Otto Iskandardinata
serta Pattimura
Dan kakiku tanpa sadarku berjalan kesitu
Dan aku kehilangan kesadaranku
Dan aku hanya bisa rindu
Dengan kegilaan mimpiku
Tadi malam itu
Sisa-sisa kewarasanku sudah terpakai untuk mengejar orang-orang itu.
Terus mengejar orang-orang itu
Tanpa berlari
Dan dengan hanya duduk
Termenung
Dalam sebuah bilik kotak 2x2

Dengarkanlah, aku hendak teriak
Dengan segenap sisa-sisa nuraniku
Yang hendak ku muntahkan
Atau ku berakkan
Agar tubuhku jadi ringan
Sehingga bisa lebih cepat berlari
Mengejar pahlawan kertas

Tolong aku!
Karena aku baru bangun
Dan masih ngantuk
Dan tak tahu apa-apa
Dan tahu-tahu jadi begini

Manusiakan aku!
Karena aku masih terlena idealisme mimpi
Dan ketika aku siuman,
Mayatku
Dan jiwaku
Telah di-mekanisasi

Dan aku akan berkarat sebentar lagi


(Karena dunia dan korporasinya telah mencincang mimpiku dan memakannya hidup-hidup)




You don't need machines to create a robot apocalypse,

-@erdions-

Popular posts from this blog

Lockdown Breakdown