Posts

Showing posts from 2015

Kata-kata dan Kalimat Acak Yang Setema namun Tak Bertautan

• Aku adalah secarik kertas putih polos sebelum kau datang dan menorehkan tanda tanganmu di tengah aku. Tapi kenapa setelah itu kau harus merobek aku? • Dan masukkan aku, larungkan aku dan memori tentangku jauh ke dalam laut, hanyutkan, tenggelamkan jauh darimu. • Akan tetapi, sejauh apapun aku mencoba membuangmu jauh ke tengah laut, angin dan ombak akan membawamu kembali. • Kamu yang membuat aku merasa kosong. Membuatku kini merasakan kekosongan yang bahkan kau tak bisa isi penuh lagi. • Dan kita akan bertemu lagi, dan kita akan bertemu seakan kita orang asing yang tidak pernah mengenal satu sama lain sebelumnya. • Deep inside I will wait for you. When your heart is broken again I might smile a bit because I'm still mad at you. But when you're ready to love again, my doors are open. Cause I'm ready whenever you are.. • Dan aku merasa seperti sedang tidur di kamar yang bukan tempatku, dan berharap pada bintang yang bukan panduku. Karena aku mencintai kamu yang t...

Keluhan di Bulan Juni

Juni, Aku berkata Mau cerita Tentang si dia Dan rentang detik Aku dengannya Dan kita tertawa, Dan kita gembira, Dan kita berpesta, Dan kita bersama Juni, Aku merasa Tadi, ada suara Jauh, dalam kepala Bahwa, aku terbawa Hanyut, hilang logika Karam, dalam renjana Dan di tengah desiran desire Dan ketika benakku bersyair Merasa hidupku tak berakhir Jebret! Menyalak bagaikan petir Dia pergi, Juni. Dia pergi Di saat aku merasa aku tak akan sepi lagi Di saat aku merasa kepinganku sudah terisi Meski aku berjanji takkan marah Tetap saja bung, sakitnya parah Dan para pujangga picisan akan bernyanyi Tentang tangis kering tak berair mata, Tentang rintihan teriak sunyi Dan aku justru akan bernyanyi Tentang bagaimana kita sudah berbeda Tentang tatapan mata yang tak lagi sama Tentang sifat naif yang membawa petaka Tentang si tolol yang terbawa suasana Juni, Di umurmu yang belia Kau buat aku ceria Dan kau tukar dengan derita Dalam waktu tiga hari saja I...

Bunga Kertas

Aku melihat Setangkai bunga Sepi, di taman ia sendiri Dan ia berdiri Meski terinjak Meski patah ditimpa jejak Kaki yang menapak Dan sepatu yang mendepak Dan dia berdiri Tanpa tangis isak Yang terlihat Meski alam berlaku jahat Meski kesepian tersirat Pekat Kelopaknya penuh gurat pahat Penuh luka tipu khianat Dan dia tetap berdiri Karena martabat Tiada bercacat Dan aku heran Karena wanginya Masih enak dipandang Dan indahnya Masih ada dihirup Dan bunga kertas itu Bunga kertas rapuh itu Menatap balik padaku Ia ada di matamu. Tentang luka hati dan hilangnya rasa percaya, -@erdions-

Ngintip

Aku tidur dengan mata terbuka karena aku berharap bisa melihat celah menatap kedalaman lembah tudung tulip merah merekah Aku tidur sebelah mata terbuka Karena dua mata yang ada di depan muka tidak menujukan pandangnya ke arah yang sama Aku tidur tanpa mata terbuka karena aku tidak berkedip terlalu lama dan lelah memaksa untuk aku tidur saja Karena posisi kakimu tetap menghalangi, -@erdions-

Kebosanan dalam Mengerjakan Ujian (Aku di Awal dan Akhir)

Aku Di antara jiwa yang menggigil lesu dan raga yang panas berpeluh beku serta kepala yang berdenyut dan jantung yang serasa tak berdenyut Di sela-sela lidah yang kelu bisu gagap dan gagu dan rasa takut akan karma dosa yang mengintai dari balik tirai sandiwara Dan wajahku pucat pasi dan tulang-tulangku gemetar bergemuruh aku sebentar lagi runtuh dan aku takut setengah mati Karena dulu aku melupakan Tuhanku dan kini tuhanku melupakan Aku Bosen nungguin kelar waktu ujian sedangkan soal sudah habis, -@erdions-

Coba-coba Membuat Sepotong Haiku

Aku merindu Tapi tangan tak mampu Untuk merengkuh Did I did it right? -@erdions-

Bulan

Apabila aku harus menggambarkanmu dalam satu kata saja, nona, maka kata yang tepat adalah "bulan". Kenapa begitu, kau mungkin tanya. Karena, bagai peribahasa, bagai pungguk merindukan bulannya, Aku sang pungguk dan kau dewi malamnya. Kau cahaya terang di malam dingin durjana. Tiada kutemukan yang lebih terang, nona, hanya dikau sahaja. Namun celaka, sejauh apapun aku terbang ke arah sana, takkan sampai aku dapat menggapainya. Ya, kau terlalu jauh untuk raihan tanganku. Sayap yang ada pada punggungku tidaklah cukup kuat mengangkatku ke atas sana, ke tempat kau bertahta. Lagipula, aku siapa? Aku bukan penakluk jagat raya, bukan orang yang mampu dan pantas untuk meraih bulan dan menariknya ke bumi. Toh lagipula, apabila sanggup aku mencapai engkau, nona, kau terlalu besar untuk aku taklukkan. Disandingkan denganmu, kemegahanmu akan menelanku. Bulat-bulat. Maka, nona rembulan, takkan pernah kita bersua, dan kamu, tetaplah di langit situ. Karena aku takkan mampu menggapaimu. Jang...