Posts

Showing posts from September, 2014

Dan Kau Hanya Diam Saja

Kau lihat di situ ada peti harta, Dan tertera di secarik kertas,  di atasnya Bahwa peti itu, dan segala binar isinya Adalah milikmu semata. Dan kau hanya diam saja Berlalu melewatinya Kau lihat disitu ia berdiri sepi Dan terlihat sekelilingnya  Tak sesosok pun Tak sesosok pun menemaninya Dan kau hanya diam saja Berlalu melewatinya Dan dia memberikan tatapan itu Matanya mencerminkan Jelas Bahwa ia sedang menanti Menanti sesuatu membawanya kesana Dan kau hanya diam saja Berlalu melewatinya Dan dia Dalam metafora Mengulurkan tangannya Dan kau, Kau seharusnya menggapainya, Dan kau ikut kesana bersamanya. Dan kau hanya diam saja Berlalu melewatinya Bodoh! Pada akhirnya dirimu sendiri kau cemooh! Karena dalam keraguan dan konfidensimu yang roboh Engkau telah gegabah dan membuat dirimu terlihat bodoh Karena kau hanya diam saja Dan berlalu melewatinya Untuk rasa malu -@erdions-

Ilaneva 2

Dalam tenang jiwa Dalam suka damaikan sukma Dalam damai di taman bunga Dalam naung taman di barat Ilaneva Di bawah langit biru di angkasa raya Dalam angan mimpi menembus bayangan maya Di atas hampar hijau rumput ilalang seraya Di sini aku berbaring di taman Ilaneva Dibasuh hujan sore menetes rintik Dibelai manis tetes air bagai jemari lentik Diusapkan segala tangis dan kerut jenuh jiwa Di tengah hujan gerimis di taman Ilaneva Disorot mentari pagi tepat di bola mata Dibangunkan deru ombak membasahi celana Ditarik ombak ke laut mengawali kelana Di mimpi pasir platina di pantai Ilaneva Dalam tenang jiwa Dalam suka damaikan sukma Dalam damai di hutan cemara Dalam sejuk angin di timur Ilaneva Dalam cerita yang tiada berakhir Dalam ria tak kenal getir Dihembus angin sejukkan mata Di atas awan di langit Ilaneva Dirayu bidadari terbang kesana kemari Dirayu keping salju musim dingin Januari Dirayu kayangan silau layaknya supernova Dimabuk asmara sriwedari di pun...

Ilaneva

Siapkan layarmu! Arahkan haluanmu! Sekali lagi kita berlayar Membelah laut luas menghampar Arahkan kekermu! Pusatkan pandanganmu! Ke tanah pasir platina Ke arah labuh Ilaneva Jauhkan keraguanmu! Hilangkan ketakutanmu! Memang badai menghalang langsung Meski ombak mengoyak lambung Tapi kau lihat, ketika kau telah sampai Di lantai pasir putih di pantai Ilaneva Kau temukan tiupan angin santai Membawamu terhanyut dalam damai jiwa Ia, Ilaneva, adalah keindahan yang tak tersentuh Oleh tangan kaki manusia bertubuh Ilaneva belum ternoda jejak sepatu Dan dia akan menjadi pulau pertama pengembaraanmu Atau mungkin singgahan akhirmu... Dalam rengkuh udara di tanah Ilaneva Engkau hembuskan dan hirupkan cinta Dari Yang Kuasa akan anugerah indah-Nya Engkau rasakan dilingkupi damai hati yang lama kau damba Bayangkan engkau berdansa di aula Di dalam megah di tengah istana Rasakan suka yang tak terlupa Seiring langkahmu menyusuri balai...

Topeng

Aku tak mau Kalau nanti aku Lupa dan gelap mata Aku tak mau Bila Topeng yang susah payah Aku jahitkan ke muka Terlepas kaitannya Dan terpecah Aku tak mau kamu takut Karena di balik topeng itu ada Sesosok buruk rupa Yang terkutuk mengalami nasib Yang sama Bagai siklus yang tiada habisnya Tak ada Tak ada lagi yang mau terima Sosok wajah dibalut cela Apalagi engkau Karena kamu adalah alasan Di balik semua tambalan Topeng kebisuan Dan Kejauhan darimu Karena kamu Meretakkan topengku Dengan gugup dan malu Apakah kau senang dengan rupa dibalik topengku? -@erdions-

Pintu

Adakah pintu itu Masih terbuka untukku? Adakah kereta itu Belum berangkat Dan masihkah ada karcis untukku Apakah aku masih bisa berpaling padamu? Ah, bodohnya aku Terlantar dalam kaku Dibelenggu ragu-ragu Padahal aku lihat Pintu itu masih terbuka Dan pintu itu terbuka Tepat depan mata Dan aku hanya bingung ternganga Dalam kepala tak ada tanya Selain "Lalu gimana?" Karena aku, dalam kebodohanku Tak tahu harus apa Cuma bisa malu Takut untuk mengetuk Seakan berat langkah maju mendekat Seharusnya aku coba masuk saja Namun sejuta khayal melintas dan membatas Munculkan takut akan apa di dalam Munculkan kenangan sakit tentang lain pintu Yang dibanting tutup depan wajahku Dan sekarang pintu mulai merapat Dan aku, dalam mengutuki kekeliruanku Dan dalam penyesalan, bertanya dalam haru Adakah pintumu masih terbuka untukku? Please don't close the door on me, -@erdions-

About Things Posted Here

Oke, gue udah pengen ngepost dari kemaren-kemaren tapi gak ada materi, like usual,  dan ketika ada sekilas ilang karena gue jadi sering keluar rumah sekarang. If you noticed that my posts have been poetic lately, itu karena gue emang pengen bikin puisi lagi akhir-akhir ini. Because love needs beautiful words, -@erdions-

Berkaca

Aku menatap diri Coba cari lagi esensi Cari alasan Dari mana bisa begini Berkaca pada opini Sadari salah diri Mencoba reparasi Agar lebih layak lagi Walau cermin tajam peri Walau diiris luka hati Seharusnya aku tak peduli Aku ingin lepas semua Keluar dari kurung cangkang lama Tambal lubang poles goresan Walau lelah tapi sepadan Ingin baik jiwa dan badan Syukur aku katamu pedas Maka jawaban sudah terlepas Mulutmu beriku bebas Untuk tahu mana yang ditebas Makasih kau buat aku terjaga Dari mimpi semu rasa lega Dari sesak hitam asap jelaga Dari tenggelam ke dasar telaga Jauhkan aku dari bangga Karena memang tak pantas bangga Karena banyak rusak dimata Meski aku tak tahu, Apa aku harus bertopeng begitu lama Hingga melapis menyatu dengan mukaku Atau aku lepas kulitku, Atau jiwaku Lepas dan tambal lagi untuk yang baru Tapi aku bertekad mengganti Demi kamu, dan terlebih Aku yang lebih dekat lagi Dengan kesempurnaan. Introspeksi, -@erdions-

Sayap Hitam

Kamu malaikatku Adapun hitam sayapmu Dan letak surgamu aku tak tahu Ini aku, bingung dan tak tahu Seisi pikiran berontak tak tentu Takut hilang, takut kehilanganmu Kau gelisah dan legaku Kau hantui pikiranku Hadirmu hapus galauku Tolong, aku takut Aku dalam kemelut Pikiran sakit serabut Kamu terbang Menjauh melayang Dan aku tak senang Karena aku takut kau hilang Aku takut kau masuk jurang Aku tak rela dan aku bimbang Masih banyak tanya melintas Jejak bulu sayap hitammu meretas Fantasi tanpa batas Aku coba menyangkal bila surgamu durjana Aku coba terima pabila itu adanya Aku terbelah jadi dua Aku tak tahu harus gimana Haruskah aku bersayap juga Agar aku terbang kemana kau berada Dan hentikan jalanmu tuk peluk kita berdua Aku takut kita hilang dan tiada Aku takut, aku takut. Haruskah aku putihkan sayapmu Agar tak salah arah lajumu Tapi aku khawatir kau kehilangan segalamu Oh, God, what should I do? Haruskah aku jadi malaikatmu Biar aku menja...

Retret

Fuck, man; gue capek. Banget. Hari ini tanggal 13 September 2014, baru balik retret 3 hari di Pratista di Cimahi di deket Bandung. Sebenernya ada banyak yang pengen gue omongin but as I sit here and write this thing, I ran out of things to say, so I'm gonna keep this short. But I'm glad. Retret kali ini beda sama retret sebelumnya. Yang ini lebih ngena. From my happy side, -@erdions-

Akrostik 2

Kenapa baru aku sadari? Apakah buta selama ini Lamunan lain melintas memori Ingkari satu yang tak disadari Semua kini ter-realisasi Ternyata baru jelas disini Aku terdiam memaki diri Lantas kenapa baru sadari? Ada disini sekeping sriwedari Visi mengabur serabutan wara-wiri Entah kemana kuarahkan diri Namun sekarang buyar ilusi Ini aku, sekarang sadari Aku mencari, kudapat disini Aku tak mengerti kenapa baru sadari? Ketika ruang waktu biarkan kita menepi Ungkapkan keping memori teringat jauh tadi Cukup sesal terlambat sadari. Ingin putar waktu kembali Niatan belaka tak bisa beraksi Terkikis habis waktu tak ganti Aku hanya ingin lebih lama lagi, Pelankan laju waktu disini, ku ingin denganmu nikmati Dalam larik romansa abadi Alangkah indah bila pahami Mulai kini mulai mencari Ungkapan cinta lewat puisi Ada sandi tersirat, -@erdions-